Liburan Murah Ke Lokasi Perang Puputan

para-punggawa-di-alun-alunSalah satu perang besar yang terjadi dalam sejarah Indonesia adalah Perang Puputan. Perang ini tak kalah heroik dengan Perang 10 November di Surabaya, perang lima hari lima malam di Semarang ataupun dengan peristiwa Bandung Lautan Api. Dalam bahasa Bali, kata puputan berasal dari kata puput yang berarti tanggal, putus, mati, atau juga habis. Sehingga Perang Puputan bermakna pernag penghabisan ataupun perang mati-matian. Perang ini diawali kala penjajah Belanda yang melakukan intervansi terhadap Kerajaan Badung dengan menuduh mayarakat sekitar Sanur melakukan pencurian terhadap kapal dagang milik Kwee Tek Tjiang, seorang pedagang dari China. Kapal tersebut terdapat di Pantai Sanur pada tanggal 27 Mei 1904 dan masyarakan sekitar Sanur memberikan pertolongan dengan mengembalikan muatan kapal kepada sang pemilik. Namun oleh pemerintah Belanda, mereka justru dimintai tebusan karena dianggap mencuri.

lapangan-puputan1Karena tak merasa melakukan tindakan tercela tersebut, mayarakat Sanur pun menolak memberikan tebusan sehingga memaksa pihak Belanda melakukan penggempuran ke kota Denpasar pada pagi-pagi buta dengan menembakkan meriam-meriam mereka. Kejadian tersebut berlangsung pada 20 September 1906 dengan perlawanan secara habis-habisan dari Raja Badung dan rakyatnya yang disebut dengan Laskar Badung. Mereka mengenakan pakaian serba putih dan meski hanya bersenjatakan keris dan tombak namun mereka berjuang hingga titik darah penghabisan. Banyak korban yang berjatuhan dari pihak Kerajaan Badung dan perang tersebut dimenangkan oleh pihak Belanda karena rakyat Badung kalah jumlah dan senjata. Dan kini di tempat berlangsungnya perang tersebut dibangun menjadi ruang terbuka hijau perkotaan, yakni Alun-Alun Puputan. Bukan hanya menjadi tempat bersejarah, namun Alun-Alun Puputan juga menjadi alternatif wisata murah di Bali.

lapangan-puputanBanyak warga lokal yang memanfaatkan Alun-Alun Puputan untuk melepas lelah setelah penat seharian bekerja. Entah sekedar menghabiskan sore ataupun nongkrong di malam hari. Dikunjungi bersama keluarga ataupun rekan, tempat yang juga dikenal dengan namaLapangan I Gusti Ngurah Made Agungini, tetap sama-sama mengasikan. Pepohonannya yang rindang benar-benar bisa membuat badan dan pikiran yang penat karena beraktivitas menjadi lebbih rileks. Apalagi dengan udaranya yang sejuk semakin membuat betah berlama-lama di sana. Di malam hari banyak penyedia jasa hiburan anak yang mangkal di sana sehingga tepat dikunjungi bersama buah hati. Misalnya saja bermain odong-odong sambil membawa balon yang banyak dijumpai di sana, Pada minggu pagu, warga lokal memanfaatkan alun-alun sebagai temapt berolahraga, mulai dari jogging hingga bermain bola. Mau latihan sepeda free style ataupun skateboard juga bisa dilakukan di sini. Pokoknya bermain, berkumpul, berbincang ataupun berlatih semua bisa dilakukan di Alun-Alun Puputan.

alun-alun-puputanAlun-Alun Puputan juga cukup mudah dijangkau karena lokasinya yang berada di daerah tapal kota. ALun-Alun Puputan juga menjadi pusat kota Denpasar dan pusat Bali karena berada di titik nol Kota Denpasar. Tak jauh dari alun-alun terdapat Museum Bali dan juga Pura Agung Jaganatha. Markas Militer dan patur Catur Muka juga begitu mudah dijangkau karena memang lokasi alun-alun yang berada diantara Jl. Suropati, Jl. Udayana, Jl. Beliton, dan juga Jl. Mayor Wisnu. Sebuah patung pejuang dipajang di sana dengan membawa bambu runcing untuk mengingatkan pengunjung alun-alun akan  peristiwa Perang Puputan. Pengunjung juga bisa menikmati hiburan yang kerap diadakan di panggung yang terletak di sisi utara alun-alun. Pokoknya yang ingin berwisata murah di Bali sambil berwisata sejarah, patut berkunjung ke Alun-Alun Puputan.

Refrensi:

http://www.anythingbali.com/wisata-murah-alun-alun-puputan/

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *