Berkunjung ke salah satu Bali Aga di Karangasem

unnamedBali Aga merupakan desa yang mempertahankan pola hidup dan tata masyarakat berdasarkan aturan adat (awig-awig) yang diwariskan oleh nenek moyang dimana autran adat tersebut mencakup pengaturan letak bangunan, bentuk dan besarnya bangunan beserta pekarangan,  juga letak pura. Bali Aga disebut-sebut sebagai  penduduk asli Bali yang mendiami wilayah pegunungan dan melakukan perlawanan ketika Kerajaan Majapahit menguasai Bali. Desa Bali Aga kini menjadi destinasi wisata budaya yang populer di  Bali, kehidupan dan tatanan masyarakat yang sangat tradisional mampu menarik minat banyak wisatawan asing untuk melihat langsung kehidupan masyarakat Bali Aga. Desa Bali Aga yang sangat terkenal adalah Desa Tenganan, Desa Trunyan dan Desa Sembiran, namun kali ini kita akan membahas keunikan dari Desa Tenganan. Desa Tenganan terletak di Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem. 

Menginjakan-Kaki-Di-Desa-Tenganan-Yang-EksotikDi sini kalian akan melihat eksotisme dari kehidupan dan kebudayaan warga Desa Tenganan  yang sangat menjaga tradisi. Menyajikan pemandangan rumah penduduk yang berjejer dengan sama persis, rumah sederhana dan lingkungan yang damai, juga penduduknya yang ramah membuat para wisatawan asing tertarik untuk datang dan berkeliling, menyaksikan aktifitas dari para penduduk. Jangan sungkan untuk bertanya, karena penduduk asli Desa Tenganan akan siap membantu kalian untuk mengantar berkeliling dan menjelaskan tentang seluk beluk desa dan adatnya. Kalian akan merasakan budaya yang sangat kental di sini. Selain menjaga tradisi dan budaya, para penduduk Desa Tenganan juga mempertahankan keturunan dengan menikah dengan warga sesama desa saja. Mereka akan menjodohka para bayi pada saat dilahirkan dan dinikahkan ketika sudah dewasa.

1523249lontarr1780x390Desa Tenganan juga terkenal dengan kain grinsing-nya, yaitu kain tenun tradisional dari Desa Tenganan yang dibuat dengan menggunakan teknik dobel ikat dan merupakan satu-satunya kain tenun tradisional di Indonesia yang menggunakan teknik ini. Proses pembuatan satu kain gringsing membutuhkan waktu 2-5 tahun. Hal ini disebabkan karena semua proses pembuatan kain menggunakan olah tangan dan cara yang tradisional seperti kemiri yang digunakan untuk merendam kain harus menggunakan kemiri yang benar-benar matang dan jatuh dari pohonnya, sesuai dengan awig-awig yang menyebutkan bahwa beberapa jenis pohon (kemiri, keluak, tehep dan durian) tidak boleh dipetik oleh pemiliknya melainkan harus dibiarkan matang dan jatuh dari pohonnya. Kain gringsing ini dipercaya bisa menolak penyakit dan bala, karena itu kain gringsing dipakai dalam berbagai upacara seperti upacara pernikahan, upacara potong gigi dan upacara keagamaan lainnya. Dan umumnya penduduk desa Tenganan memiliki kain gringsing yang berumur puluhan bahkan ratusan tahun yang biasa mereka gunakan untuk melaksanakan upacara.

arts-31-8846Ada tradisi unik terkait dengan aturan adat warga Tenganan yaitu Mageret Pandan atau tradisi Perang Pandan. Tradisi ini berupa dua orang pemuda desa yang saling memukul dan menyayat lawan menggunakan duri-duri daun pandan. Sebuah tradisi  yang ngeri untuk dilihat, karena sabetan daun pandan berduri akan meninggalkan luka, namun tradisi ini dilakukan sebagai tahap untuk mencari pemimpin desa. Tradisi ini juga memberikan kebanggaan secara personal bagi peserta yang mengikuti, mereka tidak mengkhawatirkan luka yang didapat ketika melakukan Perang Pandan, karena setelah itu luka mereka akan diolesi dengan ramuan dari tumbuh-tumbuhan untuk mempercepat proses pengeringan luka.

Biasanya Magaret Pandan dilakukan pada bulan Juli, bagi travelers yang ingin berkunjung ke Desa Tenganan langsung saja datang ke sini. Membutuhkan waktu sekitar 1 hingga 1,5 jam untuk sampai ke sini jika dari Bandara Ngurah Rai. Ketika Magaret Pandan dilaksanakan, kalian akan menemui banyak sekali wisatawan asing dan fotografer yang ingin melihat secara langsung keunikan tradisi ini dan mengabadikannya.

Karena Bali Aga ini merupakan Desa tradisional, maka jangan heran jika kalian melihat sistem barter masih berlaku disini. Terlebih lagi jika kalian melihat para petani yang melakukan barter pada hasil kebunnya. Sebagian besar penduduk di sini memang berprofesi sebagai petani, meski ada beberapa orang yang bekerja dengan membuat hasil kerajinan tangan seperti anyaman bambu dan lukisan yang diukir di atas daun lontar yang sudah di bakar. Yuk berkunjung ke Bali Aga Desa Tenganan. Cek juga Tour Bali untuk kalian yang ingin berkunjung ke destinasi wisata lainnya di Bali.

 

 

 

referensi :

 

http://travel.kompas.com/read/2014/01/20/1712571/Melihat.Bali.Sesungguhnya.di.Desa.Tenganan

http://www.thearoengbinangproject.com/bali-aga-desa-tenganan-karangasem/

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *